Liputan Cyber || Jatim

Negara Jerman dikenal dengan negara besar dengan kondisi ekonomi yang stabil, pendidikan berkualitas, dan budaya yang selalu dilestarikan. Sebagai yayasan lintas negara, Wisma Jerman yang berlokasi di Jalan Taman AIS Nasution No.15 di Surabaya, berkomitmen perkenalkan bahasa dan budaya Jerman melalui program menariknya bagi Warga Negara Indonesia (WNI) ataupun warga lokal di Surabaya.
Komitmen tersebut diwujudkan dalam agenda media gathering bertajuk ‘Dari Surabaya ke Jerman:Peluang Tanpa Batas Bersama Wisma Jerman’ di Ruang Halle, Wisma Jerman Surabaya. Acara ini bertujuan untuk menyoroti peran penting yang dimainkan oleh Wisma Jerman dalam hal pembelajaran bahasa Jerman dan pemahaman terhadap budaya Jerman serta berbagai kesempatan menarik yang ditawarkan di Jerman seperti Ausbildung, studi dan beasiswa ke Jerman serta pra-integrasi ke Jerman.
Direktur Wisma Jerman, Mike Neuber, menyampaikan, Wisma Jerman adalah yayasan Indonesia yang berdiri sejak tahun 2012 dan merupakan bentuk kerja sama untuk mendunia antara Kamar Dagang dan Industri Jerman-Indonesia (EKONID). Goethe Institut Indonesia didukung oleh Kedutaan Besar Jerman.
“Wisma Jerman mewakili kepentingan Jerman di wilayah Jawa Timur dengan tiga pilarnya yaitu ekonomi, pendidikan (bahasa) dan budaya,” jelas Mike, dikonfirmasi Jumat (21/2/2025).
Saat ini, Mike mengungkapkan, negara Jerman sedang menghadapi kekurangan tenaga kerja yang signifikan. Disebutkannya, Jerman membutuhkan sekitar 200 ribu pekerja asing untuk mengisi berbagai sektor.
Bidang-bidang yang sangat membutuhkan tenaga kerja asing antara lain adalah, Teknologi Informasi (IT), kesehatan dan keperawatan, teknik industri dan mesin, pendidikan, sera energi terbarukan.
“Pemerintah Jerman telah mempermudah proses migrasi, termasuk persyaratan administrasi yang lebih sederhana dan proses reunifikasi keluarga yang lebih cepat, mirip dengan kebijakan di Kanada dan Amerika Serikat,” ungkap Mike.
Dibalik tujuan Wisma Jerman dalam memberikan informasi tentang masyarakat, perekonomian dan budaya Jerman serta menjembatani bahasa maupun budaya untuk mempertemukan masyarakat Indonesia dan Jerman, Mike menuturkan, dalam lima tahun terakhir, terdapat peningkatan signifikan terhadap minat masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda untuk belajar bahasa Jerman dan mendapatkan sertifikasi.
“Tahun lalu, di Wisma Jerman sendiri ada lebih dari 1.700 orang mengikuti ujian bahasa Jerman. Dari jumlah tersebut, 40 persen mempersiapkan diri untuk program Ausbildung, 50 perseb untuk melanjutkan studi, dan sisanya untuk program lain,” jelasnya.

Media gathering bertajuk ‘Dari Surabaya ke Jerman:Peluang Tanpa Batas Bersama Wisma Jerman’ di Ruang Halle, Wisma Jerman Surabaya. Foto : Vivin
Oleh karenanya, apabila ada WNI ataupun warga lokal Surabaya yang ingin mengadu nasib dan mengeyam pendidikan di Jerman khususnya jika ingin menjadi warga negara Jerman, Mike menerangkan, proses durasinya bergantung pada jenis visa yang dimiliki. Dalam beberapa kasus, pekerja tidak perlu mengajukan aplikasi secara mandiri, melainkan mendapat tawaran langsung dari pihak imigrasi Jerman.
“Bagi mereka yang mengikuti program Ausbildung, dibutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk dapat mengajukan kewarganegaraan. Sementara itu, tenaga ahli dengan minimal sertifikat bahasa level B1 dapat mengajukan setelah 33 bulan,” terang Mike.
Ia menegaskan, persiapan mengambil pendidikan, bekerja hingga memilih tinggal di Jerman memerlukan komitmen dan waktu yang tidak pendek.
“Biasanya, dibutuhkan sekitar 6 hingga 8 bulan untuk mencapai level bahasa B1, ditambah proses pelamaran kerja dan administrasi yang memakan waktu sekitar 4 hingga 6 bulan. Jadi, total persiapan bisa memakan waktu sekitar satu tahun,” ucap Mike.
Meski begitu, Mike tetap menegaskan, bahwa Negara Jerman membuka peluang ini bukan untuk menarik migrasi permanen atau warga negara tetap, melainkan sebagai solusi kerja sementara yang saling menguntungkan pihak pekerja dan negara Jerman.
“Saat ini, jumlah warga Indonesia di Jerman belum signifikan dibandingkan dengan komunitas dari Eropa Timur atau Vietnam. Ini berarti peluang bagi tenaga kerja Indonesia masih sangat terbuka lebar,” bebernya.
Apalagi, Mike mengatakan, Wisma Jerman sendiri saat ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi yang memiliki jurusan Bahasa Jerman, seperti Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dan Universitas Negeri Malang (UM), untuk memfasilitasi persiapan ini.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung dan memfasilitasi masyarakat Indonesia yang ingin meraih peluang karier di Jerman melalui berbagai program dan kerja sama,” pungkas Mike.
Diketahui, pada agenda tersebut Wisma Jerman juga memperkenalkan program-program Wisma Jerman di tahun 2025 seperti acara budaya yang bersifat tahunan, bulanan dan mingguan yang umumnya diadakan secara gratis serta dibuka untuk umum. Tak lupa, ada pula program kampanye penanaman 1.000 pohon mangrove yang diselenggarakan pada di tahun 2025 ini. (Red)

