Liputan Cyber || Jatim

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) turut memeriahkan dengan menggelar layanan literasi keliling selama tiga hari, mulai dari tanggal 27 hingga 29 Oktober 2025, di Candra Wilwatikta, Kabupaten Pasuruan. Layanan ini disambut antusias oleh masyarakat dan juga peserta Kemah Integrasi Pemuda Jawa Timur 2025 “Amukti Palapa Nusantara” dengan total kunjungan mencapai hampir 40-50 pengunjung perhari.
Petugas Disperpusip Jatim, Luwitaningsari yang merupakan Pustakawan Ahli Muda Rabu (029/10/2025) menjelaskan bahwa layanan yang disediakan mencakup berbagai jenis koleksi buku untuk jenjang SMA ke atas, seperti buku-buku tentang Komputer, Psikologi, Agama, Ekonomi, Kesehatan, Bahasa, Biografi, Olahraga, Keterampilan, hingga Novel. Selain itu, untuk mengakomodasi masyarakat umum, Disperpusip Jatim juga menyediakan koleksi buku dongeng untuk anak-anak.
Pada hari sebelumnya, Disperpusip Jatim juga berkolaborasi dengan Kartikanita Widyasari S.Psi atau biasanya disapa Kak Nitnit, seorang pendongeng sekaligus psikolog dan motivator. Kegiatan literasi ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, menampilkan permainan dan sesi motivasi menggunakan kartu, yang berhasil menarik ekspresi dan partisipasi aktif dari peserta.
Menyikapi peringatan Sumpah Pemuda, Disperpusip Jatim berharap dapat menggerakkan literasi, khususnya di kalangan pemuda yang mulai terpengaruh oleh gawai atau gadget. “Harapan kami ya tentunya bergerak di, jadi literasi, terutama di literasi. Bagaimana teman-teman kita, pemuda yang selama ini mungkin sudah terpengaruhi dengan gadget, lupa membaca buku, bagaimana nikmatnya membaca buku, bagaimana sensasinya,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Wita tersebut.

Disperpusip Jatim menekankan bahwa upaya peningkatan literasi harus dimulai sejak dini. Berbagai program unggulan telah dilakukan, seperti Dongeng Online, Darling, sosialisasi literasi ke sekolah (SD, SMP, SMA) dan Lapas, hingga ke tingkat desa, dengan tujuan menguatkan literasi.
Disperpusip Jatim juga menegaskan bahwa konsep perpustakaan saat ini telah berevolusi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial, bukan sekadar tempat membaca dan menulis. “Sekarang perpustakaan itu berbasis inklusi sosial. Jadi perpustakaan sebagai tempat mereka berkegiatan,” jelasnya.
Oleh karena itu, di area Disperpusip Jatim sendiri telah tersedia berbagai fasilitas dan pelatihan, seperti kolam ikan, hidroponik, pelatihan barber, pelatihan membuat hampers, dan tapoyaki. Tujuannya adalah agar dengan membaca buku, pemustaka dapat mempraktekkannya, menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, dan meningkatkan pendapatan (income) mereka. (Red)

