Liputan Cyber || Jatim

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur kembali menggelar Cerdiq (Cerdas Digital) Beruang Siber – Bedah Ruang Siber Jilid VII dengan tema “AI Jahat di Balik Layar: Deepfake sebagai Mesin Disinformasi” secara daring pada Senin (26/5/2025), dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin.
Sherlita mengatakan bahwa menggunakan AI (Artificial intelligence) sudah menjadi sebuah kebutuhan yang bisa dimanfaatkan untuk membuat sambutan, mendapatkan informasi, mengambil narasi – narasi penting dari paparan atau sambutan. Bahkan bentuk pelayanan publik, beberapa instansi pemerintah sudah punya chatmod yang bisa dengan mudah dan cepat menjawab pertanyaan – pertanyaan dari masyarakat.
“Meski demikan bukan berarti AI ini menguasai hidup kita, tapi AI ini mari sama – sama kita gunakan untuk membantu dan memberikan kita informasi lebih. Sedangkan memanfaatkan Deepfake ini mempunyai dampak positif khususnya dalam hal publikasi kita bisa memberikan informasi dengan menarik,”ujar Sherlita.
“AI tidak hanya memberikan dampak positif tapi juga memberikan dampak negatif. Hari ini kita akan belajar bersama bagiamana kita menangani dan menanggulangi AI– AI yang punya dampak negatif. Kalau kita tidak menggunakan AI pasti kita akan ketinggalan,”tambah Sherlita.
Sherlita juga mengatakan bahwa Diskominfo Jatim dalam rangka menyiapkan Jatim sebagai provinsi yang tidak hanya paham AI tapi juga bisa menggunakan AI, dalam waktu dekat akan melakukan kerjasama dengan Google, Microsoft dan AI Centernya ITS untuk mengadakan pelatihan – pelatihan untuk ASN di lingkungan Pemprov Jatim untuk bisa mengikuti dalam tingkatan dua level.
“Level pertama adalah ASN yang memiliki keingintahuan belajar menggunakan AI tapi menggunakan sistem AI yang sudah ada misal dalam membuat narasi, prompt atau notulen untuk meningkatkan kinerjadi masing – masing Perangkat Daerah. Sedangkan level keduanya adalah untuk ASN yang memiliki kompetensi atau passion untuk belajar AI lebih dalam yang diharapakan bisa menjadi agen AI Jatim ke depan dan membangun sendiri sistem AI nya untuk kebutuhan masing – masing Perangkat Daerah,”jelasnya.
Sementara Narasumber Belly Rachdianto – Cyber Security Hobbyst & Consultant mengatakan bahwa bagaimana teknologi deepfake kini menjadi ancaman serius di dunia digital. Ia menampilkan contoh video manipulatif dari tokoh dunia seperti Morgan Freeman, yang menunjukkan betapa realistisnya konten yang dihasilkan AI.
“Deepfake bukan sekadar hiburan. Ia telah digunakan untuk hoaks, pencemaran nama baik, manipulasi opini publik, bahkan penipuan digital,” jelas Belly.
Ia juga mengungkap bahwa sejumlah tokoh publik di negara seperti Singapura dan Hong Kong telah menjadi korban deepfake. Dalam konteks finansial dan pemerintahan, teknologi ini juga berpotensi disalahgunakan secara luas.
Belly juga menegaskan bahwa pembuatan dan penyebaran video deepfake yang merugikan pihak lain dapat dijerat sanksi pidana berdasarkan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).
“Dengan munculnya teknologi AI generatif seperti ChatGPT, pembuatan konten palsu jadi lebih cepat dan mudah. Tanpa literasi digital yang kuat, masyarakat bisa menjadi korban bahkan pelaku tanpa disadari. Dengan adanya AI kita hanya bisa meminimalisasi resiko dan dengan adanya AI ini kita saring dulu sebelum sharing.”tambahnya (Red)

