Liputan Cyber || Jatim

Pagi yang hangat menyelimuti pesisir selatan Pulau Gili Noko, ketika langit memancarkan cahaya keemasan, menyambut langkah-langkah kecil 200 tukik penyu sisik (Eretmochelys imbricata) menuju samudera lepas. Di hadapan ratusan pasang mata, pelepasliaran tukik ini menjadi simbol harapan dan kelestarian, sebuah ritual sakral yang menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut.
Momen mengharukan ini digagas oleh Pokmaswas Hijau Daun dan Pokmas Gili Noko berlangsung, Senin (28/4/2025) dengan dukungan penuh dari PLN Nusantara Power. Hadir dalam kegiatan ini jajaran Forkopimcam Sangkapura dan Tambak, perangkat desa dari Daun dan Sidogedungbatu, tim Resor Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, serta pelajar dan warga Dusun Gili.
Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Gresik, Ichwan Muslih, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini menjadi langkah konkret dalam pelestarian satwa langka. “Penyu sisik adalah spesies dilindungi yang peran ekologisnya sangat penting bagi keseimbangan laut. Konservasi bukan sekadar aksi penyelamatan, tetapi bentuk cinta kita pada kehidupan,” ungkapnya.
Pelepasliaran dilakukan di sisi selatan Gili Noko — lokasi yang sengaja dipilih karena aman dari lalu lintas kapal. Tempat ini juga dikenal sebagai salah satu titik penting peneluran penyu di Bawean, meski secara administratif belum ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Hal ini justru menunjukkan bahwa konservasi bisa tumbuh dari kesadaran dan inisiatif warga.
Dalam sambutannya, para tokoh masyarakat dan aktivis lingkungan menekankan pentingnya menjaga pesisir Pulau Bawean sebagai habitat alami penyu yang kini semakin terancam oleh perburuan liar dan kerusakan habitat akibat aktivitas manusia.
Sebanyak 200 tukik penyu sisik yang lahir dari telur-telur hasil peneluran alami, dilepaskan dengan penuh haru. Setiap gerakan kecil mereka di pasir menjadi simbol tekad untuk bertahan hidup, menembus rintangan ombak demi mencapai kedewasaan di laut lepas — dan suatu saat, akan kembali ke pantai ini untuk meneruskan siklus kehidupan.
Gili Noko kini tak hanya dikenal sebagai permata kecil wisata bahari Bawean, tetapi juga sebagai titik harapan bagi pelestarian spesies langka. Keterlibatan aktif masyarakat dalam konservasi telah menjadi contoh bahwa pelestarian alam bukan hanya tugas negara, melainkan panggilan nurani setiap insan.
Ketika tukik terakhir menghilang di balik ombak, seolah terselip doa dalam hembusan angin: semoga laut tetap teduh, pantai tetap lestari, dan kehidupan terus berputar bagi generasi yang akan datang. (Redaksi)

