Liputan Cyber || Jatim

Tuntutan kesibukan karir saat ini, menyita perhatian dan kepedulian anak-anak terhadap orang tua mereka. Kebutuhan akan perawatan para lansia atau orang tua bagi anak-anak yang sudah disibukkan dengan aktivitas kerja mereka sehari-hari menjadi hal penting, oleh karena itulah seorang mahasiswi Program Digital Business Management Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), bernama Stephanie Elizabeth Shirley merancang sebuah prototipe aplikasi mobile bernama SeniorCare.
Diketahui, Stephanie merupakan salah satu lulusan terbaik UKWMS Angkatan Akademik 2024/2025. Dikatakannya, aplikasi tersebut bukan hanya menjadi katalog digital layanan perawatan lansia, tapi juga jembatan emosional antara anak dan orang tua mereka.
“Kadang orang tua yang dititipkan di panti jompo merasa kesepian, merasa seperti ditinggalkan. Saya ingin meminimalkan perasaan itu lewat teknologi,” jelas Stephanie, Kamis (24/4/2025).
Ia menyebutkan, aplikasi SeniorCare adalah aplikasi yang terdapat daftar panti jompo di dalamnya, selain itu dalam aplikasi tersebut memungkinkan pengguna dalam mencari layanan senior living dan home care, melacak aktivitas harian lansia, membaca laporan kesehatan, dan mengatur jadwal kunjungan.
“Ada fitur Activity Log, Daily Report, sampai Reminder. Bahkan ada data detak jantung, suhu tubuh, gula darah, tekanan darah, sampai oksigen,” sebut Stephanie.
Fitur-fitur tersebut, dipaparkan Stephanie tergabung dalam empat menu utama yakni, Home, Monitor, Reminder, dan Profile. Di menu Monitor, Ia menyampaikan, anak bisa memantau perkembangan kondisi orang tuanya secara real time.
“Di Reminder, baik anak maupun lansia bisa saling tahu jadwal kunjungan berikutnya. Bahkan ada menu Invoice untuk memudahkan pembayaran layanan perawatan,” paparnya.

Mahasiswi Program Digital Business Management Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), bernama Stephanie Elizabeth Shirley perancang aplikasi SeniorCare. Foto : Vivin
Stephanie yang merupakan salah satu lulusan terbaik UKWMS ini, menyusun proyek aplikasi SeniorCare hanya dalam waktu tiga bulan, selama padatnya jadwal magang di suatu bank. Ia adalah salah satu peserta yang lolos seleksi ketat BCA Future Talent, program early hiring untuk mahasiswa potensial.
“Saya ngerjain skripsi ini malam hari dan akhir pekan. Hari biasa saya magang dari jam 8 sampai 5 sore. Jujur, sempat kena mental juga,” ungkapnya.
Stephanie membeberkan, aplikasi SeniorCare yang masih berupa Prototipe ini sempat diuji coba pada 13 responden, yang terdiri dari delapan anak dan lima lansia. “Hasilnya, respon cukup positif, terutama dari kalangan anak muda yang merasa sangat terbantu dengan fitur pengingat kunjungan dan informasi terintegrasi,” bebernya.
Walaupun sudah diuji coba, Stephanie mengaku, aplikasi SeniorCare ini masih dalam bentuk mock-up interaktif, yang belum dikembangkan menjadi aplikasi sepenuhnya. Ke depan Ia berharap apabila ada pihak yang ingin berkolaborasi dalam mengembangkan ide ini secara serius.
“Sekarang saya masih fokus kerja. Tapi kalau suatu saat ada yang mau bantu kembangkan aplikasinya, saya terbuka untuk itu,” ujarnya.
Lebih dari sekadar aplikasi, SeniorCare adalah sebuah teknologi dan wujud dari upaya untuk menjawab keresahan akan ketidak pedulian orang tua yang dibiarkan di usia senja. (Redaksi)

