Liputan Cyber || Jatim

Pengurus DPW LDII Jawa Timur melakukan audiensi dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Jawa Timur, Akhmad Sruji Bachtiar, pada Senin (3/2). Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak menekankan pentingnya menjaga moderasi beragama sebagai upaya memperkuat persatuan dan toleransi di tengah masyarakat.
Bachtiar menyoroti bahwa keberagaman agama, kepercayaan, dan etnis di Indonesia adalah bagian dari identitas bangsa yang majemuk. Ia menegaskan bahwa perbedaan merupakan anugerah dari Allah SWT yang harus disyukuri dan dijadikan sebagai kekayaan dalam membangun komunikasi, interaksi, serta persaudaraan di tengah masyarakat, seperti dilansir dari laman resmi LDII Jawa Timur, Jumat (21/2/2025).
Menurut Bachtiar, semua agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menolak segala bentuk kekerasan serta intoleransi. Ia menekankan bahwa semakin kuat seseorang dalam memahami agamanya, semakin tinggi pula kesadarannya dalam mewujudkan moderasi beragama. Oleh karena itu, ia berharap ormas keagamaan memiliki pemahaman yang sama dalam membangun moderasi beragama, sehingga umatnya pun bisa menerapkan nilai-nilai toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Bachtiar juga menyampaikan apresiasinya terhadap silaturahim yang dilakukan oleh DPW LDII Jatim. Ia berharap komunikasi dan kerja sama ini dapat terus terjalin sehingga Kemenag Jatim dan LDII bisa berjalan beriringan dalam membangun kehidupan beragama yang harmonis di Jawa Timur.
Senada dengan Kakanwil Kemenag Jatim, Ketua DPW LDII Jawa Timur, KH Moch Amrodji Konawi, menegaskan bahwa persatuan bangsa harus dijaga melalui ukhuwah dan moderasi beragama. Ia menekankan bahwa Indonesia sebagai negara multikultural perlu mengedepankan toleransi agar tidak terjadi perpecahan. LDII pun berkomitmen terhadap empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, sebagai dasar persatuan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Amrodji juga memaparkan berbagai program kerja LDII yang berfokus pada kontribusi dan pengabdian bagi bangsa. Program tersebut mencakup pembangunan sumber daya manusia berwawasan kebangsaan, literasi digital, penguatan ekonomi syariah, ketahanan pangan, hingga pengembangan energi baru terbarukan.
Ia mengibaratkan Indonesia sebagai kapal besar yang harus tetap stabil agar seluruh masyarakat, termasuk umat Islam, dapat menjalankan kehidupan dengan baik. Oleh karena itu, setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas negara agar tetap menjadi ruang yang kondusif untuk beragama, berbangsa, dan bernegara. (Red)

