Liputan Cyber || Jatim

Guna memupuk pertumbuhan generasi para sineas muda, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya atau biasa disebut Petra Christian University (PCU) telah sukses melakukan Screening empat Film Dokumenter karya mahasiswanya dari mata kuliah Produksi Film Dokumenter. Empat film dokumenter yang ditonton di Bioskop CGV Maspion Square Kota Surabaya itu, menyoroti kisah-kisah inspiratif dan penuh makna tentang individu, permasalahan lingkungan, maupun budaya yang terlupakan.
Dengan mengangkat tema ‘Yang Terpinggirkan’, empat film dokumenter tersebut, masing-masing berdurasi kurang lebih 14 menit. Seluruh film, merupakan hasil karya mahasiswa yang telah melalui proses riset, produksi, dan editing yang panjang.
Dosen Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter PCU, Daniel Budiana menjelaskan, screening film ini sebetulnya adalah salah satu luaran pembelajaran mahasiswa untuk mengreasikan sebuah bentuk karya komunikasi dalam bentuk perfilman atau medium sebenarnya sinema. Itulah mengapa alasan pemutaran film dilakukan langsung di bioskop, karena sekaligus ingin memberikan pengalaman berkesan kepada para mahasiswa yang merupakan sineas muda di kelas produksi film dokumenter.
Dikatakan Daniel, alasan pemilihan tema screening film ‘Yang Terpinggirkan’, adalah karena tema ini sebenarnya lahir dari kepekaan mahasiswa dalam melihat realitas di sekitar mereka. “Kami ingin menampilkan bagaimana kisah perjuangan hidup orang-orang di sekitar kita, yang mungkin dalam kehidupan sehari-harinya masih dipandang sebelah mata sebagai kelompok marjinal,” ujar Daniel, Rabu (19/2/2025).
Ia juga menambahkan bahwa ada banyak hal di sekitar yang sering luput dari perhatian, padahal bermakna dan bernilai besar. “Banyak yang belum tahu bahwa Kebun Raya Mangrove di Surabaya adalah satu-satunya di Indonesia. Sering kali, kita hanya melihatnya sebagai hutan mangrove biasa tanpa menyadari perannya yang penting bagi ekosistem,” terang Daniel.
Terkait proses pemilihan film yang tayang, Daniel mengungkapkan, karya mahasiswa harus melewati tahapan penilaian yang dilakukan secara internal. Lalu, untuk sampai tayang ke bioskop CGV pun, pihaknya juga mengajukan ke badan sensor film, sehingga telah lulus sensor untuk keempat film yang ditayangkan ini.
“Jadi memang film-film ini benar-benar sudah layak dan sah untuk kita screeningkan supaya tidak ada celah-celah tertentu. Nanti kalau tidak lulus sensor kan tidak enak juga. Tapi intinya kita juga sudah melakukan hal-hal tersebut sebagai prosedur,” ungkap Daniel.
Perkembangan Film di Surabaya
Screening film dokumenter karya mahasiswanya ini, menurut Daniel, dapat menunjukkan geliat perkembangan dunia perfilman di Kota Surabaya. Dirinya mengakui, dalam hal lapangan pekerjaan di dunia perfilman, untuk Kota Surabaya memang tidak terlalu banyak dibandingkan dengan di Jakarta.
Namun, Daniel menilai, supaya para sineas muda perfilman ini bisa melanjutkan jam terbangnya ke Jakarta maka butuh daya saing, sehingga sebagai modal daya saing inilah, kegiatan screening film seperti yang diadakan PCU diharapkan menjadi titik terang supaya lebih mudah menumbuhkan bibit sineas muda dalam dunia perfilman dari Kota Surabaya.
“Bukan hanya sekedar bikin film, terus selesai, kumpul ke saya. Tapi justru supaya orang yang lihat ini juga memberikan masukan buat mereka. Mulai dari teknis hingga ceritanya. Nah, itu bekal teman-teman untuk bersaing lebih lagi di tingkat nasional maupun di internasional. Karena bagaimanapun juga perfilman Indonesia harus bisa ke internasional,” ucap Daniel.
“Salah satu contoh adalah, dari empat film ini sebenarnya saya harapkan mereka juga ikut untuk beberapa film festival di internasional. Karena ada banyak film festival untuk mahasiswa. Nah, itu adalah bekal mereka bahkan untuk ber-networking dengan orang-orang yang ada di sana. Jadi mereka bisa bersaing juga itu harapannya,” sambung Daniel.
Dosen Mata Kuliah Produksi Film Dokumenter PCU, Daniel Budiana saat menyampaikan sambutannya pada screening film dokumenter karya mahasiswa PCU Surabaya di CGV Maspion Square Surabaya. Foto : Vivin
Melalui screening film ini, Daniel berharap, semoga dapat menjadi bekal bagi mahasiswanya untuk bersaing ke kancah internasional. Supaya mereka setidaknya tahu gambaran dunia perfilman seperti apa sebelum lulus kuliah nanti.
“Dari kegiatan ini saya mengharapkan teman-teman boleh semakin belajar lebih lagi. Ya, karena bagaimanapun juga teman-teman juga perlu jam terbang. Mereka (mahasiswa) baru semester lima, tetapi mereka tetap butuh jam terbang untuk teman-teman bisa lebih berkarya lagi ke depannya,” harap Daniel.
Empat Film Dokumenter Karya Mahasiswa PCU
Diketahui, empat karya yang dihasilkan para mahasiswa Creative Media Communication Program ini memiliki perspektif yang unik dan menyentuh. Setiap film membawa penonton untuk menyelami sisi lain dunia yang terabaikan, dan memberi suara bagi mereka yang tak pernah didengarkan.

Kerya pertama berjudul, TRANSformation. Sebuah film dokumenter garapan Steve William, Jeremy Axel, Helena Aileen, Ivania Amory, dan Andreas Jonathan ini menceritakan kisah Feby Damayanti, seorang transpuan asal Surabaya yang berjuang untuk membuktikan dirinya kepada dunia.
‘TRANSformation’ mengisahkan perjalanan pribadi Feby dalam mentransformasi hidupnya untuk meraih cita-cita, meski harus melewati banyak tantangan. Film ini memberi wawasan mendalam tentang kekuatan untuk terus berjuang dan menjadi diri sendiri, meskipun sering dihadapkan pada tantangan kehidupan.
Karya kedua, berjudul Kilauan Asa. Film karya Debora Natalie, Grace Angelina, Crystal Kelly, Lucky Kastan, dan Christopher Fraderikh ini, menceritakan tentang seorang ibu single parent yang menghidupi empat anaknya dengan cara yang tidak biasa, yaitu menjadi ‘manusia silver’.
Film ketiga, berjurul ‘Entangled’, yang lebih berfokus pada isu tentang lingkungan. Film ini merupakan buah karya Gryselda Maria Tanbunan, Jocelyn Liauw, Feilly Valentina Frangeline, dan Calvin Stevenson yang menyoroti salah satu tantangan utama dalam menjaga keberlangsungan ekosistem hutan mangrove adalah sampah.
Lewat film ini, para penonton diajak untuk melihat betapa pentingnya keberadaan mangrove dalam ekosistem, serta tantangan yang dihadapi oleh ekosistem ini akibat sampah yang menumpuk. Dengan pendekatan mendalam, para mahasiswa menyuguhkan solusi-solusi yang telah diterapkan untuk menjaga kelestarian mangrove dan memperbaiki kualitas lingkungan.
Film keempat, berjudul Diskotik Berjalan, yang diangkat dari fenomena ‘sound horeg’ dalam dunia musik dangdut di Jawa Timur. Film ini merupakan karya Joseph Aurelius, Catharina Dinda, Sabitah Zefanya, Ferdinand Leonardo, dan Graciella Viony. Film ini mengungkap asal-usul dan perkembangan musik dangdut yang menjadi tren.
Selain sebagai pengalaman belajar bagi mahasiswa, Daniel juga berharap karya-karya ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda kepada penonton. “Dengan melihat film-film karya mahasiswa ini, semoga kita bisa semakin tercerahkan dan lebih memahami realitas di sekitar kita,” tutup Daniel.(Red)

