Belajar Lestarikan Lingkungan, 20 Siswa SD Cikal Kunjungi Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya

Liputan Cyber || Jatim

Sejumlah dua puluh siswa Sekolah Dasar (SD) Cikal Kota Surabaya melakukan studi kunjungan untuk belajar pelestarian lingkungan sebagai bagian dari pembelajaran tentang Renewable Energy Sources dan Sustainable City. Destinasi studi kunjungan tersebut berlokasi tepat di jantung Kota Surabaya yakni di kawasan Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen yang terletak di Jalan Magersari V RT 8 RW 7 Kelurahan Ketabang, Kecamatan Genteng.

 

Dalam kunjungan ini, para siswa diajak berkeliling untuk melihat panel surya, mencetak briket arang, dan belajar mengelola sampah dengan maggot (larva lalat) pengurai sampah organik.

 

Diketahui, KBA Kampoeng Oase Ondomohen sendiri sejak lama telah menjadi kawasan percontohan dalam praktik urban farming, pengelolaan lingkungan, dan penerapan energi terbarukan. Kampung ini adalah sebuah lokasi sempurna untuk memperkenalkan konsep energi terbarukan serta pengelolaan lingkungan berkelanjutan sejak dini.

 

Dengan didampingi empat guru, para siswa antusias mengikuti berbagai aktivitas. Wali kelas 4 SD Cikal Surabaya, Rizky Akbar Presadhana pada Kamis (13/2/2025) menyampaikan, kunjungan ini memberikan pengalaman nyata bagi anak-anak tentang bagaimana sebuah komunitas bisa menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan mandiri energi.

 

“Kami baru menyadari bahwa ada kampung yang bisa menjadi influence bagi masyarakat. Tidak butuh usaha besar, tapi jika masyarakat bersatu, mereka bisa menciptakan kampung yang luar biasa seperti ini, dari mengolah energi hingga menjaga lingkungan,” jelas guru yang biasa dipanggil Dhana ini.

 

Melalui kegiatan ini, Dhana menuturkan, para siswa diberikan wawasan baru, yang kebetulan saat ini juga sedang belajar tentang Renewable Energy (Energi Terbarukan) dan juga Sustainable City (Kota Berkelanjutan).

 

“Nah kebetulan dua-duanya ada di sini, dan selama pembelajaran anak-anak juga sangat antusias karena mereka bisa terjun dan mempraktikkan langsung apa yang mereka pelajari,” tutur Dhana.

 

“Contohnya, saat di kelas kemarin mereka bertanya, apa itu charcoal, apa itu coal? Nah, di sini mereka akhirnya melihat langsung bagaimana briket arang dibuat. Alhamdulillah, mereka dapat insight baru,” sambung Dhana.

 

Selain belajar energi terbarukan, Dhana mengungkapkan, para siswa juga mendapat pelajaran tentang pentingnya pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. “Mereka tadinya pikir, di Indonesia nggak mungkin ada got yang bisa jadi tempat ikan hidup, seperti di Jepang. Setelah melihat langsung di sini, mereka sadar kalau itu mungkin saja terjadi,” ungkap Dhana.

 

Di sisi lain, Wali Kelas 4 SD Cikal Surabaya yang lain bernama Adistia Lazuardian mengatakan, kunjungan ini tidak hanya sebatas observasi, tetapi juga memberikan tugas kepada para siswa untuk mengisi modul yang berisi tiga tahapan pembelajaran utama.

 

“Yang pertama, anak-anak belajar tentang sumber energi terbarukan, seperti solar panel dan plastik yang bisa diolah menjadi minyak,” ucap guru yang biasa disapa Disti itu.

 

“Kedua, mereka memahami aksi nyata yang dilakukan oleh warga KBA Kampoeng Oase Ondomohen untuk mewujudkan sustainable city, seperti pengolahan sampah plastik menjadi sofa dan maggot farming. Terakhir, mereka melakukan refleksi—apa yang bisa mereka lakukan setelah pulang dari sini,” papar Disti.

 

Sebagai tugas akhir, Disti membeberkan, setelah studi kunjungan ini para siswa juga akan membuat sketsa kota berkelanjutan versi mereka sendiri, berdasarkan apa yang telah dipelajari di Kampoeng Oase.

 

“Mereka akan mempresentasikan konsep safe city dan sustainable city versi mereka kepada teman-teman di sekolah. Harapannya, ilmu ini bisa terus berkembang dan siapa tahu, suatu hari nanti mereka bisa membangun ‘Kampoeng Oase’ lainnya di tempat mereka masing-masing,” jelas Disti.

 

Kesan Siswa Belajar di Kampoeng Oase Ondomohen

Selama kegiatan kunjungan di Kampoeng Oase Ondomohen, membuat briket arang adalah pengalaman yang paling berkesan menarik bagi para siswa. Seorang siswa bernama Akila mengaku sangat senang belajar di Kampoeng Oase Ondomohen kecuali terkait maggot. “Aku suka semua kegiatannya, kecuali maggot,” ujar Akila.

 

Sedangkan teman lainnya bernama Iva mengaku lebih suka membuat briket arang. “Aku paling suka bikin briket arang! Seru banget,” timpal Ivo, yang diamini oleh teman-temannya. Saat ditanya apakah para sisea ingin kembali ke Kampoeng Oase, jawaban mereka seragam: “Mau!”. Bahkan, beberapa dari mereka sudah mulai membayangkan destinasi edukasi selanjutnya.

 

Kebanggaan Kampoeng Oase Ondomohen

Sementara itu, sebagai pihak kampung yang mendapat kunjungan ini Ketua Kampung Berseri Astra (KBA) Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya, Endang Sriwulansari mengatakan, kunjungan ini sangat menarik dan pertama kalinya mendapat kunjungan dari siswa SD yang sangat kritis pemikirannya.

 

“Kunjungan ini sangat luar biasa ya, dan merupakan pengalaman pertama bagi kampung Oasa Ondomohen. Karena anak-anaknya betul-betul luar biasa, sangat kritis. Dan saya merasa bangga karena mereka mau berkunjung ke tempat kita, sehingga mereka sampai enggan pulang karena memang mereka di sini belajar tentang energi alternatif. Terutama belajar tentang solar cell dan pembuatan briket arang,” kata Endang.

 

Kegiatan dalam kunjungan, Endang menjabarkan, para siswa diajak berkeliling dan ditunjukkan pengolahan sampah organik dengan menggunakan magot. Dan untuk sampah anorganik, para siswa ditunjukkan mesin pyrolisis untuk mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar.

 

“Serta kami tunjukkan sesi pengambilan ikan yang mereka sangat atusias sekali. Dan mereka juga bertanya tentang asal-usulnya air kolam yang bernama kolam gendong di sekitar Kampoeng Ondomohen ini,” papar Endang.

 

Oleh karena antusiasnya anak-anak dalam kunjungan ini, Endang berharap, mudah-mudahan Kampoeng Oasa Ondomoen ini semakin berkembang supaya pihaknya tetap bisa terus berbagi tentang pengelolaan lingkungan.

 

“Terutama bagi anak-anak sekolah yang seharusnya itu ditanamkan dari sejak dini. Mereka biar tahu bahwa sampah itu bukan suatu hal yang menakutkan. Tetapi jika diolah dengan benar, itu akan menghasilkan sesuatu,” harap Endang.

Di sisi lain, sebagai Local Champion dari KBA Kampoeng Oase Ondomohen Surabaya, Adi Candra menyampaikan, pihaknya memberi apresiasi yang setinggi-tingginya bagi segenap pengurus warga KBA Kampung Oase Ondomohen. Baginya, agenda atau kegiatan seperti ini adalah kunjungan ke beberapa kalinya di tahun 2025 ini.

 

“Dalam hal ini mereka dari SD Cikal ini kan salah satu sekolah yang favorit di Surabaya. Maka, mereka mempercayakan kegiatan outing class supaya dilakukan di KBA Kampung Oase Ondomohen. Artinya mereka sudah mempelajari capaian-capaian kami dan jejak digitalnya yanh juga sudah dipelajari. Sehingga mereka memutuskan bahwa KBA Kampung Oase Ondomohen ini bisa direferensikan kepada jajaran SD Cikal beserta mitra-mitranya sebagai destinasi studi kunjungan bagi para siswa,” terang Adi.

 

Ia merasa, selama kunjungan dan kegiatan di kampung antusiasme anak-anak sangat luar biasa. Meski masih anak-anak, Ia menilai, pertanyaan yang diajukan sangat menukik, tajam, dan kritis bahkan itu di luar ekspektasinya.

 

“Hal itu menandakan bahwa sudah melebih ekspektasi kami, ternyata anak-anak juga ada rasa semangat dan kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan. Mereka juga mempelajari bagaimana sampah itu bisa dikelola menjadi sebuah kemanfaatan dengan sebuah upaya pelestarian lingkungan,” ujar Adi.

 

“Upaya yang dilakukan seperti, contoh sampah organik. Kita bisa olah dengan magot, kemudian magotnya kalau sudah bisa kita panen kita bisa gunakan untuk pakan ikan. Nah ikannya nanti juga bisa dikonsumsi oleh warga setempat dan bisa dijual termasuk juga produksi tanaman-tanaman untuk menguatkan ketahanan pangan,” sambung Adi.

 

Ketika upaya ketahanan pangan dengan pelestarian lingkungan tersebut sudah terjadi, Adi mengungkapkan, maka produk-produk UMKM juga laris dan masuk atau input ke dalam paket yang di ambil di sini (Kampoeng Oase Ondomohen).

 

“Ini menjadi sebuah daya dorong yang luar biasa, booster sehingga yang namanya circular economy berkelanjutan itu selalu ada dan itu nyata bisa kami persembahkan dari Kampung KBA Kampung Oase Group dan UMKM,” ungkap Adi.

 

Karena kunjungan dari anak-anak atau siswa SD Cikal Surabaya ini merupakan sekolah internasional yang notabene diisi oleh murid mancanegara yang menggunakan bahasa inggris, maka Adi menilai, hal ini menjadi evaluasi dan tantangan bagi dirinya sebagai pembina kampung.

 

“Paling tidak kami harus mulai memahami, belajar terkait dengan bahasa persatuan internasional yaitu Bahasa Inggris. Itu PR kita, nanti kita akan kursus bersama-sama terkait dengan penguasaan bahasa supaya materi-materi praktis yang kita sampaikan itu bisa diserap dengan optimal bagi mereka,” pungkas Adi.(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

PMI Ngawi Jadi Tuan Rumah Pertemuan Jejaring Regional IV Madiu

Jum Feb 14 , 2025
Liputan Cyber || Jatim Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ngawi menjadi tuan rumah Pertemuan Jejaring Regional IV Madiun yang berlangsung di Aula Kantor PMI Kabupaten Ngawi. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan PMI dari berbagai kabupaten/kota di wilayah Regional IV Madiun serta perwakilan dari PMI Provinsi Jawa Timur.   Pertemuan Jejaring […]