Liputan Cyber || Jatim

Deteksi dini pendengaran pada bayi baru lahir menjadi salah satu fokus layanan dalam Giat Yankes Bergerak yang diselenggarakan di Pulau Giligenting, Rabu (19/11/2025).
Pada kegiatan ini tercatat 77 sasaran skrining, dengan 51 bayi dan anak hadir, terdiri dari 49 bayi serta 2 anak.
Dokter Spesialis THT RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Prof. Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THTBKL., Subsp.N.O (K)., FICS., FISCM, menjelaskan pentingnya deteksi dini dilakukan secara rutin dan mandiri di tingkat puskesmas. “Deteksi dini pada bayi sudah dapat dilaksanakan oleh puskesmas dengan beberapa metode yang sesuai usia mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan skrining ini telah diperkuat melalui pelatihan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, yang diikuti 30 tenaga kesehatan dari RS Abuya serta puskesmas Kangayan, Arjasa, Raas, Sapudi, Nonggunong, Giligenting, dan Ambuten. “Metode dan pelaksanaannya sudah kami latih, sehingga puskesmas dapat melakukan skrining secara mandiri sesuai panduan,” jelas Prof. Nyilo.
Dalam proses pemeriksaan di Giligenting, tim menemukan sejumlah kasus yang membutuhkan penanganan lanjutan. Di antaranya seorang anak usia 7 tahun dengan gangguan pendengaran sangat berat di kedua telinga. Anak ini sebelumnya pernah diperiksa di RSUD Dr. Soetomo, namun belum melakukan kontrol kembali. Kondisi tersebut membuat anak sulit berkomunikasi dan membutuhkan alat bantu dengar. Tanpa alat bantu, ia dianjurkan bersekolah di SLB, sedangkan bila tetap di sekolah reguler, alat bantu dengar menjadi kebutuhan utama. Biaya alat bantu dengar yang cukup tinggi membuat keluarga berharap adanya dukungan pemerintah.

Pelaksanaan deteksi dini pendengaran pada bayi
Kasus lain ditemukan pada seorang anak dengan scrofuloderma TB yang juga mengalami gangguan pendengaran. Pemeriksaan menunjukkan telinga kanan mengalami gangguan derajat sedang, sementara telinga kiri termasuk kategori berat. Anak berusia 9 bulan tersebut telah menyelesaikan terapi TB lengkap, namun membutuhkan rujukan lanjutan serta pemeriksaan kontak keluarga untuk memastikan tidak ada risiko penularan.
Pada layanan yang sama, tim juga menemukan bayi usia 4 bulan yang belum pernah menerima imunisasi BCG dan DPT, karena orang tua tidak mengizinkan. Selain itu, beberapa bayi terdeteksi mengalami penumpukan serumen, yang dapat mengganggu hasil skrining pendengaran. Prof. Nyilo menjelaskan bahwa puskesmas sudah dapat melakukan irigasi telinga karena telah memperoleh On the Job Training (OJT) serta ear kit. Namun diperlukan pula tambahan tetes telinga carboglycerin untuk melunakkan serumen sebelum tindakan.
Dalam kesempatan tersebut, dilakukan pula penyerahan ear kit dari PERHATIKL Jatim Utara kepada tujuh puskesmas dan satu rumah sakit, yakni RS Abuya, serta puskesmas Kangayan, Arjasa, Raas, Sapudi, Nonggunong, Giligenting, dan Ambuten. Bantuan diserahkan oleh Ketua Komda PGPKT, Prof. Nyilo Purnami, disertai media edukasi untuk mendukung pelaksanaan skrining sesuai standar.
Prof. Nyilo menegaskan bahwa deteksi dini merupakan langkah penting bagi masa depan anak. “Dengan deteksi dini, kita bisa mengetahui mana anak yang membutuhkan intervensi. Intervensi ini bisa menjadi solusi bagi masa depan anak berkebutuhan khusus dengan masalah pendengaran, termasuk menentukan pendidikan yang paling sesuai,” tegasnya. (Red)

