Ingatkan Publik Bijak Bermedia Sosial, Lawan Hoaks dengan Literasi Digital

Liputan Cyber || Jatim

Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur menegaskan pentingnya peningkatan literasi digital sebagai benteng utama melawan hoaks yang semakin marak di era arus informasi tanpa batas. Hal itu disampaikan dalam program siaran RRI Surabaya bertajuk “Jangan Biarkan Hoaks Membajak Akal Sehat” yang menghadirkan para pakar komunikasi dan pemerhati media.

 

Ketua Tim Kerja Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo Jatim, Eko Setiawan, S.I.Kom., M.Med.Kom, menegaskan, media sosial kini menjadi saluran yang paling banyak diakses masyarakat, namun media arus utama seperti radio dan televisi masih memiliki peran vital sebagai penjernih informasi.

 

“Survei Kementerian Kominfo menunjukkan media sosial memang menjadi rujukan tercepat, tetapi untuk informasi yang akurat tetap kembali pada media arus utama. Ada proses verifikasi, ada meja redaksi, ada editor,” jelasnya.

 

Kominfo Jatim, lanjut Eko, telah menjalankan program CERDIG – Cerdas Digital yang sudah diikuti hampir 2.000 masyarakat, baik secara daring maupun luring. Program tersebut bahkan sudah menjadi model literasi digital di tingkat nasional. “Hoaks lahir dari turbulensi informasi. Tantangan kita adalah membekali masyarakat dengan critical thinking, agar tidak mudah percaya hanya karena ‘yakin’ tanpa verifikasi,” tambahnya.

 

Sejalan dengan itu, Aan Haryono, S.E., M.Med.Kom., Komisioner KPID Jatim sekaligus Koordinator Bidang Pengawas Isi Siaran, menyoroti dampak luas hoaks yang bisa memecah belah masyarakat.

“Kita sedang berada dalam bubble informasi yang sangat luas. Algoritma media sosial menciptakan ruang gema sehingga publik terpolarisasi. Disinformasi bahkan sering terstruktur, masif, dan sistematis, dengan tujuan politik, ideologi, hingga ekonomi,” tegas Aan.

 

Sementara itu, Puji F. Susanti, S.Fil., M.A. dari Presidium Mafindo, mencontohkan kasus beredarnya kembali video demo lama yang dikemas seolah-olah peristiwa terbaru. Ia mengingatkan bahwa literasi digital masyarakat masih perlu ditingkatkan.

 

 

“Sekarang tantangannya lebih berat karena hoaks tidak hanya berupa teks atau gambar, tetapi juga video, artikel palsu menyerupai media arus utama, bahkan manipulasi dengan teknologi AI. Ini sulit dibongkar, namun tetap bisa dilawan dengan kesadaran kritis masyarakat,” ujarnya.

 

Melalui dialog tersebut, para narasumber sepakat bahwa media penyiaran memiliki tanggung jawab moral sebagai penjernih informasi publik. Masyarakat juga diajak untuk lebih berhati-hati, tidak tergesa menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta memastikan dampaknya sebelum membagikannya.

 

“Jika tahu itu hoaks, cukup berhenti di kita. Jangan ikut menyebarkan, karena itu bisa memicu konflik,” pesan para narasumber. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Wali Kota Eri Takziah ke Rumah Petugas Damkar yang Meninggal saat Tugas

Sel Sep 9 , 2025
Liputan Cyber || Surabaya Jatim Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Surabaya Rini Indriyani takziah ke kediaman almarhum Edi, Komandan Regu Pemadam Kebakaran (PMK) Pos Kandangan, di Dusun Bulang Kulon, Benjeng, Kabupaten Gresik, Senin (8/9/2025).   Dalam takziah kepada Edi yang meninggal dunia saat bertugas […]