Liputan Cyber || Surabaya Jatim

Penjagaan dan pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara sinergis dari banyak pihak. Oleh karenanya melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), sebagai lembaga pendidikan di Surabaya, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) melakukan Bimbingan Teknis (Bimtek) Tata Kelola Magot, Pelet dan Digital Marketing di Kampoeng Oase Songo yang terletak di RT 09, RW 03 Kelurahan Simomulyo, Kecamatan Sukomanunggal Surabaya.
Kegiatan ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan dan Kantor LLDikti wilayah 7 Jawa Timur serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UWKS melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan kontrak Nomor: 200/PM/LPPM/UWKS/V/2025 tanggal 28 Mei 2025.
Dengan tajuk, ‘Formulasi Pelet Ikan Maggot Berbasis Urban Farming Untuk Ketahanan Pangan dan Ekonomi Sirkular di Kampoeng Oase Songo Surabaya’, kegiatan ini diketuai oleh Rondius Solfaine dari Program Studi (Prodi) Kedokteran Hewan UWKS, dengan anggotanya, Dwi Haryanta, dan Marina Revitriani.
Sebagai wujud sinergi dari banyak pihak, kegiatan ini juga diikuti oleh mahasiswa diantaranya bernama, Wakiatul Awliya, Raeva Sinatrya Henlifaristik, dan Annisa Nurul Aini. Beberapa Prodi dan lintas fakultas juga turut berkontribusi, yakni, Prodi Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran UWKS, Prodi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UWKS, dan Prodi Teknologi Industri Pertanian, FakultasTeknik UWKS.
Dalam keterangannya, Ketua PKM UWKS Rondius Solfaine menyampaikan, pihaknya sudah menjalin kerjasama dengan mitra dari sejak orientasi wilayah sebelum melakukan kegiatan pengabdian di Kampoeng Oase Songo Surabaya.
“Kami kemudian menggali informasi dari mitra apa kebutuhannya, apa yang akan menjadi prioritas kegiatan pengabdian dan kami sepakat bahwa sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh mitra itu adalah mengembangkan apa istilahnya itu budidaya magot yang sudah dikembangkan selama ini tapi kurang optimal,” jelas Rondius, Minggu (31/8/2025).
Potensi Kampoeng Oase Songo
Rondius menilai, sebagai peneliti dirinya melihat potensi Kampoeng Oase Songo Surabaya memiliki banyak hal, salah satunya budidaya magot. Kelebihan magot yang pertama, disebutkannya adalah berkaitan dengan kebijakan lingkungan yang bersih.
“Karena dengan budidaya magot ini maka sampah-sampah organik dari masyarakat dari rumah tangga itu bisa dimanfaatkan, jadi tidak terbuang untuk menjadikan makanan atau bahan untuk membudayakan magot itu. Kemudian magot sendiri nanti bisa dioptimalkan sebagai bahan atau produk yang dimanfaatkan untuk pakan ternak,”ungkap Rondius.
Topik utama dari pengabdian ini, Rondius memaparkan, adalah bagaimana meningkatkan nilai dari magot, yang selama ini hanya digunakan hanya magot yang segar atau magot yang dikeringkan kemudian diberikan ternak. “Kami terapkan dengan riset yang kami lakukan di universitas yaitu membuat suatu formulasi khusus yang bahan dasarnya itu magot,” papar Rondius.
Selain magot, Rondius menyebutkan, pihaknya dan kelompok peneliti memberikan masukan potensi tentang sampah-sampah cangkang telur. Bahwa ternyata dari sampah yang tidak berguna tadi, cangkang telur menjadi salah satu bahan yang bermanfaat untuk membuat pelet.
“Sehingga bahan-bahan bakunya yang utama adalah magot, kemudian cangkang kulit telur tadi kemudian bahan-bahan lainnya sebagai penambah supaya pelet yang akan dihasilkan itu nanti mempunyai nilai yang tinggi, bermanfaat dan bisa dijadikan salah satu produk UMKM dari Oase Songo ini,” sebutnya.
Ke depan nanti, setelah formulasi ini, Rondius membeberkan, akan merencanakan standarisasi produk, yang mendapatkan hak paten kemudian dipasarkan atau dikomersialisasikan.
“Kami juga menghadirkan narasumber kami yaitu Anindya Rusyono Wirawan itu sudah memberikan pembekalan bagaimana melakukan digitalisasi marketing melalui marketplace,” bebernya.
Rondius mengatakan, kegiatan ini juga berkolaborasi dengan Karang Taruna Kampoeng Oase Songo. Dia menegaskan, otoritas kegiatan ini tidak hanya digunakan untuk hiburan semata tapi juga untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat, untuk komersialisasi produk UMKM.
Pengembangan Lingkungan Warga Lokal
Pelatihan PKM, Bimtek tata kelola magot, pelet dan digital marketing ini mendapat sambutan hangat dari warga lokal Kampoeng Oase Songo Surabaya. Tanggapan tersebut, disampaikan oleh, Ketua Kampung, Yaning Mustikaningrum yang mengatakan bahwa apapun yang sudah dilakukan dan diterapkan oleh Kampoeng Oase Songo adalah pengembangan lingkungan, dengan pembuatan pelet magot.
“Supaya magotnya itu tidak hanya dijual dalam keadaan hidup, maka ini akan dikembangkan untuk menjadi pelet magot yang tentunya akan menambah nilai ekonomi, sehingga pengembangan lingkungan bisa terlaksana dan berdaya,” ujar Yaning.

Bimtek Budidaya magot, pelet, dan digital marketing UWKS di Kampoeng Oase Songo, Surabaya. Foto : Vivin
Awal mula Yaning memutuskan mengelola magot menjadi pakan pelet, adalah dari, percobaan memberi magot untuk pakan lele, yang ternyata hasilnya luar biasa.
“Ke ayam, ayamnya juga luar biasa, tumbuhnya lebih cepat. Ke burung, burungnya juga oke. Jadi, ternyata setelah saya terapkan magot menjadi pakan dalam bentuk hidup itu sudah oke, namun kan tidak bisa terlalu lama, tidak bisa disimpan lama,” paparnya.
Perempuan yang menjabat sebagai Ketua Kampoeng Oase Songo ini, mulai memutar otak agar magot yang mejadi pakan bisa awet sehingga diubah menjadi pakan pelet.
“Selanjutnya ini karena menjadi pelet, kami berharap magot ini bisa tersimpan lama karena sudah menjadi pelet,” ucap Yaning.
Pemasaran Pelet Magot
Dengan pengolahan magot menjadi pakan pelet itu, Yaning bisa menghasilkan pakan untuk hewan dengan keunggulan penyimpanan yang lebih awet. Sehingga agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas, dirinya menjual atau memasarkan pelet pakan dari magot termasuk dengab metode digital atau marketplace.
“Market pasarnya magot pelet ini tentunya lebih luas karena kita bisa memasarkan ke pasar ikan Gunung Sari, misalnya. Kemudian kami juga akan menjual ke lingkungan RW 3 ini warga sekitar ini akan saya promosikan bahwa, selain menghabiskan sampah basah atau sampah organik untuk makan ternak secara langsung, ternyata magot juga bisa dibuat pelet,” jelas Yaning.
Apabila pakan magot dari limbah sampah rumah tangga masih kurang, Yaning mengungkap, dirinya akan mencari sampah organik ke pasar sekitar.
“Selain itu kami juga melakukan pemasaran pelet magot melalui media sosial seperti Instagram, TikTok, Tokopedia, Shopee. Kelanjutannya Insyaallah akan ke sana, supaya menjangkau lebih banyak dan di sini nanti masyarakat itu mau bisnis dengan barang yang tidak berguna tapi menjadi bernilai tinggi,” kata Yaning.
Hasil pelet dari magot hidup yang diolah, Yaning menyebutkan, selama seminggu dapat memproduksi lima kilogram pelet magot. Dirinya berharap, dengan magot yang diolah menjadi pelet ini, semoga bisa mengubah pemikiran masyarakat luas akan mengelola sampah limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang lebih berguna.
“Contoh ya, kita bisa jual pupuk cair, pupuk kompos, magot hidup. Loh, sekarang berkembang lagi menjadi pelet magot. Sehingga orang akhirnya nanti, supaya mindset orang itu berubah. Jangan meremehkan sampah. Jangan jijik terhadap magot. Ternyata dari situ, loh, bisa menghasilkan cuan,” pesan Yaning.
Apresiasi Terhadap UWKMS dari Pembina Kampung
Di sisi lain, sebagai Pembina Kampoeng Oase Songo, Adi Candra yang biasa dipanggil Cak Adi menyampaikan apresiasinya kepada pihak UKWMS karena telah bersedia melakukan PKM budidaya magot dan pelet di Kampoeng Oase Songo.
“Kami mengapresiasi luar biasa dan bangga terhadap teman-teman akademisi Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Bahwa magot ini kan selain sebagai biokonversi pengelolaan sampah organik, jadi ternyata dia ini bisa menjadi produk turunan berupa pelet magot,” ujar Cak Adi.
Dia menjabarkan, semula memang yang dikenal hanya magot hidup atau fresh magot dan dry magot saja, tetapi ketika dijadikan pelet, maka bisa menjangkau kemanfaatan yang lebih luas.
Konsistensi dari program pengelolaan lingkungan yang sudah dilakukan ini, menurut Cak Adi masih perlu digaungkan, dan difokuskan, supaya program-program dan produk-produk yang sudah dihasilkan bisa diterima oleh pasar.
Pengelolaan lingkungan ini, kata Cak Adi bisa dilakukan lebih luas bagi warga Kampoeng Oase Songo untuk mendorong sirkuler ekonomi yang berkelanjutan.
Kegiatan pengelolaan lingkungan ini, diketahui, seluruhnya didukung penuh oleh Kampoeng Oase Suroboyo Group, Indonesian Fighter Tourism Association (DPP IFTA) JELAJAH INDONESIA, Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (PERBANUSA) DPD I Jawa Timur, Himpunan Penggiat Adiwiyata Indonesia (HPAI) DPW Kota Surabaya, Yayasan Lestari Bumi Abadi (YLBA) Kota Surabaya, dan Forum Grakan Sedekah Sampah Indonesia (GRADASI) Jawa Timur. (Red)

