Mahasiswi UKWMS Ciptakan Inovasi Kemasan Pintar dari Limbah Makanan

Liputan Cyber || Jatim

Isu ketahanan pangan di Indonesia perlu adanya inovasi pengelolaan limbah, agar dapat mencegah banyaknya sisa makanan yang terbuang. Berawal dari keinginan untuk mengurangi jumlah limbah makanan yang terbuang itulah, seorang mahasiswi dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) bernama Clara Kusuma Wardani membuat inovasi kemasan makanan pintar berbahan dasar limbah bernama Smart Edible Film Packaging.

 

Clara yang diketahui belajar pada Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan di UKWMS itu menjelaskan, bahan dasar kemasan pintar inovasi ciptaannya berasal dari limbah kulit buah pisang. Ia menyebut, alasan dinamai kemasan pintar karena inovasi buatannya itu bisa mengindikator bahan-bahan makanan yang sedang dikemas itu sudah rusak atau masih bisa digunakan.

 

“Jadi kalau misalkan bahan-bahan yang sudah mulai rusak, kemasan ini bisa menunjukkan dengan berubah warnanya menjadi lebih gelap,” jelas Clara, Rabu (23/4/2025).

 

Latar belakang diciptakannya inovasi ini, Clara mengungkapkan, adalah karena banyaknya limbah kulit pisang yang banyak digunakan di masyarakat. “Kenapa juga menggunakan kulit pisang? Karena kulit pisang itu tebal dan mengandung kandungan pektin yang cukup tinggi. Jadi kita memanfaatkan kandungan pektin yang dimiliki oleh pisang itu,” ungkap Clara.

 

Proses Pembuatan

 

Untuk menghasilkan inovasi kemasan pintar buatannya itu, Clara menyampaikan, ada tahapan proses yang dilalui. Awal proses pembuatannya, Ia mengatakan, kulit pisang yang sudah tidak dipakai itu di preparasi terlebih dahulu, lalu di blending, dan kemudian dikerok.

 

“Nah, kerokan dari kulit pisangnya ini kita blender dengan ekstrak bunga rosella. Setelah di-blender, lalu kita panaskan, kita campurkan dengan bahan-bahan seperti tepung, telur, tepung tapioka, dan juga sorbitol,” papar Clara.

 

“Setelah itu dipanaskan nanti kita cetak dalam cetakan. Tunggu tiga hari, nanti bisa berubah menjadi lembaran film,” sambungnya.

Ia menuturkan, fungsi inovasi buatannya itu digunakan untuk mengemas bahan pangan. Dan sebelumnya, inovasi ini sudah melalui percobaan dengan mencoba mengemas susu.

 

“Jadi susu dalam wadah, atasnya ditutup sama smart edible film packaging. Nanti kita bisa mengetahui indikatornya susu itu masih layak dikonsumsi atau tidak dengan perubahan warna,” tutur Clara.

 

Sebenarnya inovasi semacam ini, dibeberkan Clara sudah banyak yang menciptakan, namun belum banyak yang menciptakan untuk dijadikan sebagai indikator mengetahui makanan itu masih bisa layak digunakan atau tidak.

 

“Kemasan pintar ini, tidak sampai mempengaruhi masakan atau makanan. Karena kita bukan edible coating yang langsung menyentuh bahan-bahan yang dikemaskan. Kita cuma film untuk menutupi bagian luarnya saja,” beber Clara.

 

Adapun jenis pisang yang Ia gunakan, ialah pisang kepok. Karena pisang lain memiliki kulit yabg lebih tipis kulitnya. “Pisang kepok ini kan tebal, jadi kita bisa dapat banyak bagian kerokannya itu. Dan hasil dari kemasan pintar yang saya buat ini bisa untuk makanan bertekstur cair maupun padat,” ujar Clara.

 

Masa penggunaan kemasan ini, dikatakan Clara, ialah bisa bertahan selama dua minggu. Dan lama proses pembuatan kemasan pintar ini, Ia mengatakan, sehari bisa jadi. “Cuma untuk benar-benar jadi filmnya ini tiga hari kemudian. Karena pengeringannya yang cukup lama,” kata Clara.

 

Metode untuk mengetahui kinerja kemasan pintar ini bekerja, Clara menjabarkan, adalah dengan perubahan warna kemasan yang semakin gelap. “Nanti kalau sudah mulai dipakai untuk penyimpanan, nanti dia bisa berubah menjadi lebih gelap. Mungkin kalau hasilnya ini kan ada yang warna biru, jadi yang ini yang cerah, jadi makin gelapnya agak hitam,” tukasnya.

 

Dengan inovasi Clara, akan kemasan pintar ini menandakan bahwa Indonesia masih perlu banyak metode untuk mengurangi limbah atau sampah makanan konsumsi masyarakat. Karena kesadaran masyarakat untuk memanfaatkan kembali limbah makanan agar lebih bermanfaat itu masih kecil.

 

Meski inovasi Clara ini merupakan tugas akhir untuk memenuhi kelulusan, Ia berharap suatu saat nanti kemasan pintar ciptaannya ini bisa bermanfaat di masyarakat. Diketahui, Clara merupakan salah satu mahasiswa lulusan terbaik UKWMS Tahun Akademik 2024/2025 yang diwisuda pada Maret lalu. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

KPU Jatim : 25 April 2025 Akan Dilaksanakan Penetapan Paslon Terpilih Pilkada Magetan

Kam Apr 24 , 2025
Liputan Cyber || Jatim Pelaksanaan penetapan pasangan calon terpilih untuk Pilkada Magetan akhirnya akan dilaksanakan pada 25 April 2025. Hal ini berdasarkan keputusan KPU RI telah bersurat kepada KPU Jatim dan KPU Magetan untuk bisa menetapkan bupati dan wakil bupati terpilih pasca Pemungutan Suara Ulang atau PSU beberapa waktu lalu. […]