Rab. Okt 21st, 2020

Liputan Cyber – Dinas Kominfo Jatim

Dalam beberapa bulan terakhir, nama Maggot mendadak populer di Indonesia. Peluang ini tidak disia-siakan oleh Gugus Satrio, generasi milenial yang merupakan alumni Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang.

Bermula saat menyelesaikan tugas akhir, Gugus Satrio memilih fokus mengkaji keunggulan maggot bsf sebagai pakan ternak. Ternyata dari kajian tersebut, ia melihat peluang yang masih terbuka lebar untuk mengembangkan maggot black soldier flies (bsf) tersebut sebagai potensi bisnis.

Maggot memiliki banyak keunggulan, yakni mengandung protein tinggi dan berkualitas yang dibutuhkan oleh ikan. Proses budidaya yang mudah dilakukan oleh siapa saja dengan biaya produksi yang murah dan terjangkau, karena media utamanya adalah sampah organik.

Manfaat lain dari Maggot adalah pengolahan sampah organik yang biasanya banyak diproduksi oleh rumah tangga. Dengan diolah menjadi Maggot, sampah akan menghilang dan disaat yang sama akan menjadi makanan untuk ikan.

“Awal memulai usaha terdapat banyak kendala, terutama pada bahan pakan dan tempat budidaya yang kurang memungkinkan karena terletak di kampung yang padat. Produksi maggot pun sempat naik turun selama beberapa bulan. Lalu saya berkunjung ke tempat rekan Kresna Ajicaraka Efendi dan Fandika Bramantyo Widodo yang juga memelihara maggot bsf. Disanalah kami berdiskusi dan memutuskan untuk bekerjasama dalam budidaya maggot bsf,” jelas Gugus, Selasa (06/10/2020).

Beruntungnya Gugus dan rekannya mendapatkan bantuan modal dari program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) pada tahun 2019, dan mulai merintis usaha Greedy Maggot Farm. Kini, selain menjadikan peternakan maggot, mereka telah mampu menjual maggot bsf dalam beberapa produk, yaitu berupa telur, fresh maggot, prepupa, pupa, dan olahan pasca panen dry maggot, dry powder maggot dan juga yang akan dikembangkan adalah pelet dari bahan dasar maggot.

Wirausaha milenial lulusan Polbangtan ini mengungkapkan, walau usaha yang dirintisnya belum genap satu tahun, saat ini Greedy Maggot Farm telah mengisi pasar ikan, pasar burung serta peternak maggot baru diwilayah Malang dan sekitarnya.

“Untuk harga dry maggot kami menjual dikisadan harga Rp.7000,- per 50 gram dan Rp. 13.000,- per 100 gram. Dry powder maggot Rp. 8.000,- per 50 gram dan Rp.16.000,- per 100 gram, Telur Rp. 6.000,- per gram. Sedangkan Fresh maggot Rp. 6000,- per kg, Prepupa Rp. 60.000,- per kg dan Pupa Rp.100.000 per kg nya,” jelas Gugus.

Kegigihan Gugus dan kedua rekannya dalam memanfaatkan peluang yang ada merupakan bukti dari keberhasilan Pendidikan vokasi pertanian. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, ada empat jurus jitu yang harus ditekankan dalam pendidikan vokasi, yakni karakter seorang petarung yang tidak mudah menyerah dan memiliki jiwa yang tangguh.

Kedua, pendidikan vokasi harus menciptakan generasi milenial yang memiliki kompetensi dan mampu bekerjasama dengan orang lain. Ketiga, memiliki sifat kritis, baik pada dirinya, dengan lingkungan dan semua masalah yang dihadapi. Namun tetap sejalan dengan jiwa kebangsaan, dan keempat adalah berfikir kreatif untuk berinovasi dengan meningkatkan literasi tentang sektor pertanian, manajemen keuangan, orientasi pasar dan sarana prasarana melalui dunia digital.

Ditambahkan oleh Kepala BPPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi, bahwa ciri pendidikan vokasi yang berhasil adalah lulusannya dapat diserap oleh dunia usaha dan dunia industri atau dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri dan lingkungan sekitarnya.

“Untuk itu, Kementan memberikan stimulus berupa bantuan modal PWMP, dan Gugus serta banyak penerima program PWMP telah membuktikan bahwa mereka mampu untuk mengelola usahanya dan menjadikan mereka wirausaha pertanian milenial,” ungkap Dedi bangga. ( Red )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *