{"id":26449,"date":"2025-08-29T12:23:36","date_gmt":"2025-08-29T12:23:36","guid":{"rendered":"https:\/\/liputancyber.com\/?p=26449"},"modified":"2025-08-29T12:23:36","modified_gmt":"2025-08-29T12:23:36","slug":"pak-antock-adi-krisdianto-maestro-lukis-sejati-dan-pejalan-ruhani","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/liputancyber.com\/?p=26449","title":{"rendered":"Pak Antock Adi Krisdianto: Maestro Lukis,  Sejati, dan Pejalan Ruhani"},"content":{"rendered":"<p>Liputan Cyber || Semarang<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-26450\" src=\"https:\/\/liputancyber.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250829-WA0032-640x1160.jpg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"1160\" srcset=\"https:\/\/liputancyber.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250829-WA0032-640x1160.jpg 640w, https:\/\/liputancyber.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250829-WA0032.jpg 706w\" sizes=\"auto, (max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/><\/p>\n<p>Setiap sapuan kuasnya seakan menyimpan kisah panjang. Warna demi warna lahir bukan sekadar gambar, melainkan jejak perjalanan seorang maestro. Dialah Pak Antok, pelukis legendaris asal Semarang, yang sejak awal 1990-an hingga kini tetap tegak berdiri di panggung seni rupa Indonesia, jumat (29\/08\/2025).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karya-karya Pak Antock tak sekadar menghiasi kanvas. Ia hadir di ruang-ruang bersejarah: Istana Negara, ruang kerja tiga Presiden RI, hingga koleksi pribadi para menteri, jenderal, dan direksi perusahaan besar. Hampir setiap tokoh penting negeri ini pernah bersentuhan dengan hasil tangannya\u2014membuat namanya tak lekang dari catatan seni rupa nasional.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Geografi Kesenian<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Perjalanan artistik Pak Antock bermula pada 1977, saat pertama kali mencoba melukis dengan cat minyak. Sejak itu, kanvas menjadi ruang hidupnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tahun 1981\u20131987, ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Rupa Yogyakarta\u2014masa yang memperkaya teknik sekaligus memperluas wawasannya tentang seni modern maupun tradisi Nusantara.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dari 1978 hingga 2007, karya-karyanya tampil dalam 69 kali pameran bersama di berbagai kota besar, mulai dari Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Surabaya, Solo, Bali, hingga menembus panggung internasional di Canberra dan kota-kota lain. Rentang panjang ini menegaskan betapa konsistensinya tak pernah pudar dalam hampir tiga dekade perjalanan berkesenian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Persahabatan yang Menjadi Jalan Ruhani<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Namun, ketenaran hanyalah selembar kulit luar dari kisah hidupnya. Di balik itu, tersimpan persahabatan yang begitu mendalam. Pak Antock adalah sahabat karib almarhum ayahanda Mas Sayyid Syahriar. Kehilangan sang sahabat membuatnya menanggung duka yang teramat dalam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dari ruang kehilangan itulah lahir sebuah keputusan besar: Pak Antock menisbatkan dirinya pada Tarekat Syadziliyyah di bawah bimbingan Mas Sayyid Syahriar. Baginya, tarekat bukan sekadar jalan spiritual, melainkan warisan persahabatan yang menjelma sebagai cahaya batin.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cSaya merasakan sendiri manfaat dan keberkahannya,\u201d tutur Pak Antock, mengenang langkah ruhani yang kini menjadi bagian dari hidupnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Melukis dengan Ruh dan Keberkahan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bagi Pak Antock, melukis bukan hanya aktivitas seni, melainkan juga ibadah. Setiap kali akan memulai goresan, ia selalu membaca mujahadah serta mengamalkan wirid dan amaliyah yang diistiqomahkan. Bahkan saat melukis, beliau senantiasa menjaga air wudhu.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Waktu-waktu berkaryanya pun selaras dengan ritme doa. Hampir setiap lukisan lahir usai shalat lima waktu, shalat dhuha, atau bahkan di keheningan malam setelah shalat tahajud.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tak heran bila karya-karyanya memancarkan nuansa ruhani yang dalam. Bagi banyak tokoh nasional, lukisan Pak Antock bukan hanya karya seni rupa, melainkan juga pancaran keberkahan\u2014sebuah daya tarik yang membuatnya begitu digandrungi hingga kini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Karya Bernilai Fantastis<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Meski usianya kian senja, tangannya tak pernah berhenti menorehkan warna. Kolektor, kurator, hingga pecinta seni kembali meliriknya, menyadari betapa tinggi nilai karya maestro asal Semarang ini.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada 2001, misalnya, Jenderal Nahrowi dan Jenderal Tiasno Sudarto (Kasad bintang empat) membeli salah satu karyanya seharga Rp100 juta\u2014angka yang pada masa itu sungguh luar biasa. Bahkan sejak era 1990-an, seorang Presiden RI telah mengoleksi lukisannya seharga Rp70 juta. Bila dikalkulasikan dengan nilai hari ini, harganya tentu berlipat-lipat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tak berhenti di situ, lukisan Pak Antock juga pernah menghiasi kediaman Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri, hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Nama-nama besar lainnya, dari jenderal hingga pengusaha nasional, tercatat dalam daftar panjang pengoleksi karyanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Apresiasi Pemerintah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penghargaan terhadap karya Pak Antock tak hanya datang dari kolektor pribadi maupun tokoh nasional. Pada 21 September 2000, Gubernur Jawa Tengah saat itu, M. Mardiyanto, bahkan menghadiahkan sebuah rumah di Jl. Gombel Permai No. 17, Semarang.Pemberian ini menjadi bukti nyata apresiasi pemerintah daerah atas dedikasi seorang maestr ( Eko)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liputan Cyber || Semarang Setiap sapuan kuasnya seakan menyimpan kisah panjang. Warna demi warna lahir bukan sekadar gambar, melainkan jejak perjalanan seorang maestro. Dialah Pak Antok, pelukis legendaris asal Semarang, yang sejak awal 1990-an hingga kini tetap tegak berdiri di panggung seni rupa Indonesia, jumat (29\/08\/2025). &nbsp; Karya-karya Pak Antock [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":26450,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5330,2203],"tags":[],"class_list":["post-26449","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-mentri-kesehatan","category-semarang"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26449","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26449"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26449\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26451,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26449\/revisions\/26451"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/26450"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26449"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26449"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/liputancyber.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26449"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}