Kam. Okt 29th, 2020

Liputan Cyber – Dinas Kominfo Jatim

Potensi ancaman bencana likuefaksi atau tanah gerak di Jatim sebagaimana yang pernah disampaikan hasil penelitian BNPB, mulai didalami BPBD Jatim. Upaya pendalaman itu dilakukan dengan menggandeng Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mengkaji dan meneliti potensi likuifaksi di Jatim.

Adapun wilayah yang ditengarai cukup berpotensi terjadinya likuefaksi adalah daerah pesisir selatan, salah satunya Kabupaten Lumajang. Untuk itu, BPBD Jatim melakukan aktivitas kajian dan penelitian yang terpusat di Lumajang, tepatnya di Kecamatan Kunir.

Di wilayah yang berdekatan dengan bibir Pantai Selatan ini, kegiatan penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik bor tangan dan Swedish Sounding Test. “Untuk tehnik bor tangan, kita akan ambil sampel di 150 titik yang tersebar di semua desa. Kalau yang Swedish Sounding Test, kita gunakan sebagai pendukung aja,” ujar Ketua Tim Peneliti yang juga Penyidik Bumi Badan Geologi Kementerian ESDM Farah Destiasari melalui rilis diterima JNR, Jumat (25/09/2020).

Rencananya, untuk melangsungkan bor tangan di 150 titik, Tim PVMBG bersama BPBD Jatim dan BPBD Kab Lumajang akan berkeliling di 11 desa yang ada di Kecamatan Kunir hingga awal Oktober mendatang.

Untuk titik pertama, Kamis (24/09) kemarin, aktivitas bor tangan dan swedish sounding test dilakukan di lahan perkebunan samping Lapangan Sukosari, Dusun Sukomaju RT 27 RW 09 Desa Sukosari.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim Gatot Soebroto mengungkapkan, kajian dan penelitian tentang potensi likuefaksi itu menjadi langkah deteksi dini. “Riset ini sebagai upaya kesiapsiagaan terhadap segala potensi bencana yang ada di Jatim,” ujar Gatot.

Dengan mengkaji dan meneliti potensi bencana ini, pihaknya berharap bisa menjadi upaya pengurangan risiko bencana di Jatim. “Semua orang pasti berharap tidak ada bencana yang terjadi di sekitar kita. Karena itu, kita perlu melakukan deteksi dini. Setidaknya untuk mengurangi risiko bencana, dan memenimalisir dampak yang akan ditimbulkan,” harapnya. ( Moh Sumbri )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *